Harga emas perhiasan yang melemah selama tiga bulan berturut-turut menjadi salah satu faktor yang membantu menahan laju inflasi pada Mei 2026. Di tengah kenaikan sejumlah komoditas lain, penurunan harga emas memberi ruang penyeimbang sehingga inflasi tidak bergerak lebih tinggi.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan Indonesia pada Mei 2026 mencapai 3,08 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan April 2026 yang berada di level 2,42 persen. Meski mengalami kenaikan, laju inflasi masih berada dalam rentang sasaran Bank Indonesia, yaitu 2,5 persen plus minus 1 persen untuk tahun 2026.
Salah satu komoditas yang berperan meredam tekanan inflasi adalah emas perhiasan. Pada Mei 2026, emas perhiasan tercatat mengalami deflasi sebesar 2,67 persen dengan andil deflasi sebesar 0,06 persen. Artinya, penurunan harga emas perhiasan ikut mengurangi tekanan kenaikan harga secara umum.
Fenomena ini menarik karena emas perhiasan sebelumnya sempat menjadi salah satu komoditas yang sering memberi dorongan terhadap inflasi inti. Namun, dalam tiga bulan terakhir, arah pergerakannya berubah. BPS mencatat emas perhiasan telah mengalami deflasi sejak Maret 2026 sebesar 1,17 persen, kemudian berlanjut pada April 2026 sebesar 3,76 persen, dan kembali turun pada Mei 2026 sebesar 2,67 persen.
Dalam perhitungan inflasi, penurunan harga satu komoditas tertentu tidak selalu cukup untuk menekan inflasi secara keseluruhan. Namun, jika komoditas tersebut memiliki bobot konsumsi yang cukup penting dalam kelompok pengeluaran masyarakat, dampaknya dapat terlihat dalam pembentukan angka inflasi. Emas perhiasan termasuk komoditas yang diperhitungkan dalam kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya.
Penurunan harga emas perhiasan menjadi penahan di tengah tekanan dari beberapa kelompok pengeluaran lain. Pada Mei 2026, inflasi mengalami kenaikan dibanding bulan sebelumnya karena sejumlah harga barang dan jasa ikut bergerak naik. Dalam situasi seperti ini, komoditas yang mengalami deflasi berfungsi sebagai peredam agar kenaikan indeks harga konsumen tidak terlalu tajam.
Secara sederhana, inflasi menggambarkan kenaikan harga barang dan jasa secara umum dalam periode tertentu. Jika banyak barang dan jasa mengalami kenaikan harga secara bersamaan, daya beli masyarakat dapat tertekan. Karena itu, angka inflasi menjadi salah satu indikator penting untuk melihat stabilitas ekonomi dan kondisi biaya hidup masyarakat.
Kenaikan inflasi dari April ke Mei 2026 perlu dilihat secara proporsional. Angka 3,08 persen menunjukkan adanya tekanan harga yang meningkat, tetapi belum keluar dari batas sasaran inflasi yang ditetapkan. Hal ini penting karena inflasi yang terlalu tinggi dapat mengurangi daya beli, sementara inflasi yang terlalu rendah juga dapat menunjukkan lemahnya permintaan dalam perekonomian.
Dalam konteks rumah tangga, penurunan harga emas perhiasan bisa memiliki dua sisi. Bagi masyarakat yang ingin membeli emas, harga yang turun dapat menjadi kesempatan untuk memperoleh barang dengan biaya lebih rendah. Namun, bagi mereka yang sudah menyimpan emas perhiasan sebagai aset, penurunan harga dapat mengurangi nilai jual sementara.
Meski begitu, emas perhiasan berbeda dengan emas batangan atau instrumen investasi emas murni. Harga emas perhiasan tidak hanya dipengaruhi oleh harga emas dunia, tetapi juga oleh ongkos pembuatan, kadar emas, model perhiasan, margin toko, dan kondisi permintaan di pasar domestik. Karena itu, perubahan harga emas perhiasan di tingkat konsumen dapat berbeda dengan pergerakan harga emas global.
Dari sisi ekonomi makro, penurunan harga emas perhiasan selama tiga bulan berturut-turut menunjukkan adanya koreksi pada salah satu komponen harga yang sebelumnya sempat menguat. Koreksi ini memberi kontribusi terhadap lebih terkendalinya inflasi inti. Inflasi inti sendiri biasanya mencerminkan tekanan harga yang lebih mendasar karena tidak memasukkan komponen harga yang sangat bergejolak.
Namun, masyarakat tetap perlu memahami bahwa terkendalinya inflasi bukan berarti semua harga turun. Inflasi yang positif tetap menunjukkan adanya kenaikan harga secara umum, hanya saja kenaikannya masih berada dalam batas yang dinilai aman. Dengan kata lain, beberapa barang bisa turun, tetapi barang lain tetap naik, sehingga hasil akhirnya tercermin dalam angka inflasi keseluruhan.
Bagi pemerintah dan otoritas moneter, perkembangan inflasi Mei 2026 menjadi sinyal yang harus terus dipantau. Bank Indonesia sebelumnya telah menegaskan pentingnya menjaga inflasi dalam sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen pada 2026 dan 2027. Stabilitas harga menjadi salah satu kunci untuk menjaga daya beli masyarakat, stabilitas nilai rupiah, dan kepercayaan pelaku ekonomi.
Inflasi yang tetap berada dalam rentang sasaran memberi ruang bagi perekonomian untuk bergerak lebih stabil. Namun, tekanan dari harga energi, bahan pangan, biaya transportasi, dan faktor eksternal tetap dapat memengaruhi inflasi pada bulan-bulan berikutnya. Karena itu, penurunan harga emas perhiasan tidak boleh dilihat sebagai satu-satunya faktor penentu, melainkan sebagai salah satu komponen yang membantu meredam tekanan harga.
Bagi masyarakat, kondisi ini menjadi pengingat penting untuk membaca data ekonomi secara lebih utuh. Ketika inflasi naik, penyebabnya tidak selalu berasal dari satu barang saja. Begitu pula ketika ada komoditas yang turun, dampaknya terhadap inflasi bergantung pada bobot dan perannya dalam struktur konsumsi.
Penurunan harga emas perhiasan selama tiga bulan beruntun memang membantu menahan inflasi Mei 2026 agar tidak melonjak lebih tinggi. Akan tetapi, tekanan harga di sektor lain tetap perlu diwaspadai. Stabilitas inflasi pada akhirnya bergantung pada kombinasi banyak faktor, mulai dari pasokan barang, distribusi, nilai tukar, harga energi, kebijakan pemerintah, hingga perilaku konsumsi masyarakat.
Dengan inflasi Mei 2026 yang tercatat 3,08 persen, Indonesia masih berada dalam jalur sasaran inflasi. Namun, kenaikan dari bulan sebelumnya menunjukkan bahwa kewaspadaan tetap diperlukan. Dalam situasi seperti ini, peran data resmi menjadi penting agar publik tidak hanya melihat angka secara terpisah, tetapi memahami penyebab, dampak, dan konteksnya secara lebih menyeluruh.
Sumber Informasi
CNBC Indonesia. (2026). Harga Emas Turun 3 Bulan Beruntun Bantu Inflasi Mei 2026 Tak Meledak.
https://www.cnbcindonesia.com/news/20260602124138-4-739387/harga-emas-turun-3-bulan-beruntun-bantu-inflasi-mei-2026-tak-meledak
Bank Indonesia. (2026). Data Inflasi.
https://www.bi.go.id/id/statistik/indikator/data-inflasi.aspx
Bank Indonesia. (2026). Target Inflasi.
https://www.bi.go.id/id/statistik/indikator/target-inflasi.aspx
Bank Indonesia. (2026). BI-Rate Naik 50 bps menjadi 5,25%: Memperkuat Stabilitas, Mendorong Pertumbuhan Ekonomi.
https://www.bi.go.id/id/publikasi/ruang-media/news-release/Pages/sp_2810726.aspx
Catatan Redaksi
Artikel ini ditulis ulang secara original berdasarkan bahan berita CNBC Indonesia dan diperkuat dengan rujukan data dari Bank Indonesia. Redaksi tidak menambahkan data baru di luar informasi yang dapat diverifikasi. Angka inflasi, deflasi emas perhiasan, dan target inflasi dipertahankan sesuai sumber yang tersedia.






